Rabu, 22 Juli 2020

Griya Logandeng Permai menjadi Pilihan Utama Perumahan di Gunungkidul, dengan lokasi terbaik dan terbesar.


Di Era Disrupsi saat ini populasi semakin meningkat sehingga setiap individu membutuhkan tempat tinggal untuk individu maupun keluarga. Pada saat ini properti perumahan semakin banyak dicari karena dalam proses pembelian serta skema pembayaran yang mudah, legalitas yang lebih lengkap, dan lebih praktis. Perumahan dengan lokasi terbaik menjadi alasan penting dalam mencari perumahan, karena lokasi menentukan nilai investasi kedepan dan menunjang akses dalam beraktifitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, fasilitas dalam perumahan menjadi pertimbangan dalam memilih perumahan. Rumah salah satu aset yang selalu mengalami penambahan nilai dan harga yang selalu naik menjadikan alasan yang masuk akal ketika seseorang mengatakan waktu yang tepat dalam membeli rumah yaitu saat ini atau sekarang.
            Seperti halnya Perumahan Griya Logandeng Permai salah satu perumahan terbesar di Gunungkidul ini terdapat fasilitas yang lengkap seperti tersedianya Masjid, Taman bermain dan gazebo, Jaringan WiFi, CCTV, Pos Satpam & Portal keamanan. Perumahan ini mempunyai lokasi terbaik berada di Jalan Kabupaten, Jalan Siyono-Siraman, Siyono Kidul, Logandeng, Playen, Gunungkidul. Lokasi ini sangat strategis karena termasuk di dalam kota dan akses menuju ke pusat ekonomi, layanan kesehatan, pendidikan, pemerintahan, dan fasilitas umum tidak lebih dari 10 menit perjalanan. Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah yang mempunyai nilai investasi tinggi dan mengalami kemajuan pesat terutama di sektor pariwisata dan berdampak dalam peningkatan ekonomi.
            Griya Logandeng Permai dengan luasan 3,8 ha dan total ada 254 unit ini sudah terjual 70% sehingga lingkungan sudah hidup dan memiliki lokasi yang datar, bebas banjir, akses jalan lebar dan cor beton. Perumahan ini  memberikan pilihan type kepada pembelinya yang ingin memiliki rumah di Griya Logandeng Permai diantaranya: tipe boulevard dan tipe amarilis. Tipe boulevard dengan model dan desain modern pertama di Gunungkidul ini mengusung rumah konsep villa dengan spesifikasi yang unggul. Perumahan ini tersedia kavling siap bangun maupun siap huni dengan luas tanah mulai 72 m2-158 m2 dengan type bangunan mulai dari 36 m2. 
            Type boulevard dan type amarilis merupakan type komersil yang digagas oleh perusahaan untuk menambah pilihan alternatif di Griya Logandeng Permai. Type ini mempunyai harga yang lebih terjangkau dan mempunyai banyak promo di bulan ini. Bagi yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut & pembelian terkait perumahan Griya Logandeng permai dapat menghubungi : 0838-6705-3901 a.n Aviq (WA/Telp/SMS).

Rabu, 23 Oktober 2019

ANGKATAN MUDA MUHAMMADIYAH DESA LOGANDENG MENGAJI, MENGUPAS PEMUDA BAPER “BAWA PERUBAHAN” DI MASJID AL-HIKMAH SIYONO KIDUL.


Acara pengajian rutin Angkatan Muda Muhammadiyah Desa Logandeng pada kesempatan ini dilaksanakan di Masjid Al-Hikmah Siyono Kidul pada hari Ahad, 20 Oktober 2019 dengan mengangkat tema Pemuda Baper “Bawa Perubahan”. Acara tersebut di isi oleh Ustadz Junendra dan dihadiri dari Pengurus & Anggota Angkatan Muda Muhammdiyah yang terhimpun dari remaja masjid se-Desa Logandeng serta Pengurus Karang Taruna Manunggal.
Kata baper “bawa perasaan” muncul sekitar tahun 2016 dikalangan milenial dan dalam kesempatan ini kami merubah menjadi kata yang positif yakni “bawa perubahan”. Mengangkat tema “Pemuda Baper” harapannya pemuda-pemudi dapat menjadi Agent Of Change untuk diri sendiri, lingkungan, bahkan negara.
Dalam perjalanan sejarah dunia, telah tertorehkan peran pemuda dalam hal perubahan. Tak terkecuali dalam sejarah bangsa Indonesia, pemuda menorehkan dengan berdirinya organisasi pemuda dimasa penjajahan dan tercetusnya Sumpah Pemuda 1928, hingga peran pemuda dalam membantu memproklamirkan kemerdekaan.
Pemuda masa kini adalah representasi bangsa Indonesia di masa depan, para pemuda memang belum banyak pengalaman tetapi di pundak mereka dan ditangan mereka para pemuda berani menawarkan masa depan.  Saat ini Indonesia sedang menikmati bonus demografi, pada tahun 2019 berdasarkan survey penduduk antar sensus (Supas), jumlah penduduk Indonesia mencapai 266,91 juta jiwa dimana penduduk yang produktif tergolong banyak lebih dari 68% dari total populasi. Sedangkan di Desa Logandeng berdasarkan survey penduduk tahun 2017, jumlah pemudanya mencapai 1.693 jiwa. Hal ini menjadi keuntungan jika kita mampu mengelolanya dengan baik tetapi jika tidak dikelola dengan tepat juga dapat menjadikan sebuah ancaman.
Banyaknya jumlah pemuda dan dikenal sebagai agen yang dapat membawa perubahan menjadi hal yang melatar belakangi diangkatnya tema tersebut.  Dijelaskan dalam kajian tersebut bahwa menjadi pemuda baper “bawa perubahan” dapat dimulai dengan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, pemuda baper tidak hanya merubah diri secara fisik, tetapi berubah untuk memperbaiki akhlak kemudian melakukan perubahan dapat bergaul dengan lingkungan yang baik dan dapat mencontoh orang-orang yang mengajak dalam kebaikan.
Kita dapat menemukan potensi diri kita, senantiasa untuk melakukan perubahan dan dimanfaatkan untuk beribadah kepada Allah SWT. Kita telah diingatkan dengan semangat dakwah pantang menyerah seperti tauladan kita Nabi Muhammad SAW dan tentang dakwah Nabi Nuh AS  yang berdakwah sampai 500 tahun, itupun beliau masih sedikit yang mengikutinya, berbeda dengan masa kini bahwa umat Islam di Indonesia menjadi paling banyak di dunia dan dapat menjadi salah satu faktor untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik di bidang keagamaan. Perlu kita pahami dan sadari bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik, lihat di QS. Al-Imran :110. Dalam melakukan perubahan kita harus saling kuat-menguatkan dan berkolaborasi antar-sesama.

Rabu, 18 September 2019

Budaya Rasulan dan Gotong Royong Memperkuat Identitas Kearifan Lokal Gunungkidul


Masyarakat daerah Gunungkidul masih terus melestarikan berbagai tradisi maupun budaya kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang hingga generasi saat ini.
Warisan budaya dan tradisi leluhur yang adiluhung banyak tersimpan di Gunungkidul. Mulai dari kegiatan rasulan yang biasanya diadakan setahun sekali, kesenian tradisional seperti; tari, reog, dan jathilan, serta banyak budaya sosial kemasyarakatan yang masih lestari di Gunungkidul sampai era masa kini. Di era ini mulai dari pemuda hingga orang tua terus dituntut untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai tradisi yang masih kental dengan kearifan lokal tersebut agar tidak hilang di generasi selanjutnya.

  • ·          Rasulan

Rasulan atau biasa disebut dengan merti desa/bersih desa yaitu tradisi yang sudah berlangsung sejak jaman dahulu dan terus dilestarikan sampai saat ini oleh warga masyarakat Gunungkidul. Diadakannya rasulan sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah dari hasil panen tanaman palawija dan hasil bumi lainnya yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Rasulan diadakan setelah selesai melakukan panen dan pelaksanaan biasanya per padukuhan/desa dengan waktu yang berbeda-beda.
Untuk memeriahkan tradisi rasulan, banyak rangkaian kegiatan dalam acara tersebut dimulai dengan bersih dusun membersihkan lingkungan sekitar mereka secara serentak. Kegiatan ini semakin semarak dengan adanya berbagai kegiatan keolahragaan seperti; turnamen bola voli, sepak bola, bulu tangkis, dan cabang olah raga lainnya. Selain itu, masih banyak pertunjukan seperti kesenian reog, kesenian jathilan, kethoprak, pentas musik campursari, kirab budaya, dan pementasan kesenian lainnya. Berbagai kegiatan rasulan biasanya ditutup dengan pertunjukan pagelaran wayang kulit yang digelar semalam suntuk. Pada saat hari pelaksanaan rasulan, setiap keluarga memasak masakan yang istimewa untuk di hidangkan kepada tamu yang datang ke rumah mereka.
Tujuan serta nilai positif yang dapat diambil dari berbagai rangkaian kegiatan tradisi rasulan tersebut yang pertama yaitu adanya kesadaran masyarakat bahwa rezeki yang telah di terima berasal dari Tuhan Yang Maha Esa yang pantas kita syukuri. poin ini berkaitan dengan inti dari pelaksanaan yakni ungkapan rasa syukur kepada Sang Maha Kuasa. Yang kedua yaitu mengajak masyarakat untuk berolahraga maupun mengolahragakan agar terciptanya masyarakat yang sehat jasmani dan rohani dengan berbagai kegiatan cabang olahraga yang di selenggarakan. Yang ketiga yaitu menciptakan atau menambah rasa kekeluargaan di lingkungan desa sekitar dan masyarakat selalu mempunyai rasa ingin berbagi dengan sesama serta mengedepankan kepentingan umun. Hal ini berkaitan dengan suksesnya kegiatan rasulan yang di selenggarakan warga masyarakat tersebut. Yang ke empat yaitu menciptakan semangat anak-anak hingga orang dewasa untuk melestarikan ataupun memelihara budaya dan kesenian lokal asli Gunungkidul. Hal ini tercermin dengan berbagai pertunjukan kesenian dan budaya yang ada di setiap kegiatan rasulan atau merti desa tersebut.

  • ·           Budaya sosisal kemasyarakatan

Karena masyarakat daerah Gunungkidul mayoritas masih mempunyai rasa kekeluargaan dan jiwa sosial yang tinggi sehingga masih mempertahankan budaya sosial kemasyarakatan seperti kegiatan kerja bakti/gotong-royong yang biasa disebut masyarakat jawa khususnya Gunungkidul dengan sesebutan sambatan yakni membantu sesama yang sedang melakukan pekerjaan besar seperti membangun rumah, panen palawija, hajatan dan lain sebagainya. Masyarakat juga masih kompak dan mempunyai semangat dalam kegiatan gotong-royong untuk kepentingan bersama seperti memperbaiki pos ronda, membangun jalan, membersihkan sungai dan sejenisnya.
Budaya kerja bakti/gotong-royong sudah ada sejak lama maka perlu di pupuk dan terus dilakukan karena itu mempunyai nilai sosial yang tinggi serta dapat mempererat kekeluargaan antar-sesama.

Selasa, 06 Oktober 2015

Lomba Tokhlik Gardu Desa Logandeng (Padukuhan Siyono Kulon)

Lomba Toklik Gardu, Siyono kulon dinilai senin malam

SIYONO KULON - Dalam rangka Lomba Toklik Gardu yang diikuti oleh sepuluh padukuhan di Desa Logandeng telah dimulai penilainnya pada malam hari Senin, 05 Oktober 2015.
Program Lomba dari Pemerintah Desa Logandeng ini bisa berjalan dengan lancar dan di respon positif oleh warga masyarakat yang antusias mengikuti perlombaan tersebut.
Senin malam (05/10/2015) tim juri dari Pemerintah Desa Logandeng yang dipimpin Kades Bapak Suhardi melibatkan Muspika Kecamatan Playen telah selesai menilai lomba 4 Padukuhan Yakni Padukuhan Pager, Plembon Lor, Plembon Kidul dan terakhir Padukuhan Siyono Kulon di saat penilaian malam pertama.
Sesampainya tim juri di Lingkungan Pos Ronda / Gardu Padukuhan Siyono Kulon, warga langsung menyambutnya, selang beberapa menit tim toklik menampilkan tabuhan tokliknya dengan harapan bisa juara dalam lomba ini agar bisa mengangkat nama Padukuhan Siyono kulon dengan Prestasi Toklik.
"Kegiatan Lomba Toklik ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan kita terhadap tindak kriminal yang berada di lingkungan sekitar juga mengangkat kembali kegiatan toklik yang selama ini tenggelam", Ujar Kepala Padukuhan Siyono kulon, Bapak Lasiyo.
"Harapan dari lomba ini, warga masyarakat Siyono Kulon agar bisa peka dan sigab terhadap keamanan lingkungan sekitar juga terus menggiatkan kegiatan Ronda", imbuhnya.
Sasaran penilaian tim juri adalah kekompakan warga masyakat dalam lomba toklik, ketertiban administrasi ronda, dan kelengkapan gardu seperti kode bunyi kentongan, gepyok dan sejenisya yang kaitannya dengan Pos kamling serta kegiatan ronda.

Sabtu, 19 September 2015

Sejarah Singkat Masjid Al-Ikhlas Siyono Kulon

Sebelum tahun 1989 Masehi, warga masyarakat islam Padukuhan Siyono Kulon ketika ingin ke masjid untuk beribadah paling dekat yakni Masjid Taqwa Siyono Tengah, karena di Siyono Kulon belum dibangun masjid. Seiring dengan berjalannya waktu para tokoh masyarakat berinisiatif mendirikan/membangun sebuah Masjid di Padukuhan Siyono Kulon diatas tanah wakaf.
Pada tanggal 03 Mei 1989 Warga masyarakat mulai membangun masjid diatas tanah wakaf seluas 155 m2 dan menghabiskan biaya pembangunan dengan total kurang lebih Rp 24.000.000,-. Selama proses pembangunan masjid warga masyarakat sangat antusias turut bergotong-royong dengan penuh semangat karena akan memiliki sebuah masjid baru yang kini diberi nama "Masjid Al-Ikhlas Siyono Kulon".
Setelah selesai pembangun sebuah masjid, diawal tahun 1990 masjid tersebut digunakan untuk shalat jumat pertama kali, disaat itulah warga mulai berbodong-bondong pergi ke masjid Al-Ikhlas guna melaksanakan Shalat fardhu berjamaah yang dipimpin seorang Takmir yaitu Bapak Ponidja yang sampai saat ini beliau masih menjadi ketua takmir.
Tahun demi tahun terus berjalan dan umur masjid semakin tua dan semakin rapuh bangunanya, maka warga Padukuhan Siyono kulon berinisiatif untuk merenovasi/membangun kembali dengan sumber dana dari infaq dan swadaya masyarakat. Pada tanggal 06 April 2015 Masjid Al-Ikhlas mulai dibongkar kembali dan dibangun kembali dengan ukuran bangunan lebih luas yang tercatat 120 m2, lebih tinggi dan juga lebih baik. disaat pembongkaran dan pembangunan itu telah memakan biaya sekitar 250 juta yang pada akhirnya selesai pembanguan pada tanggal 12 September 2015. setelah selesainya pembanguan, masjid terlihat lebih kokoh, baik, dan digunakan untuk beribadah seperti biasanya.

Senin, 14 September 2015

Profil Singkat Padukuhan Siyono Kulon

Siyono Kulon merupakan salah satu wilayah padukuhan yang bisa disebut tertua di Desa Logandeng, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul. Letaknya yang condong ke barat dari letak geografis Desa Logandeng. Padukuhan sebelah barat ini berbatasan dengan Padukuhan Sayangan, Desa Bandung. Aliran sungai yang melentang dari utara ke selatan itulah sebagai garis perbatasan kedua padukuhan tersebut. Dari sejak zaman dahulu, padukuhan ini mempunyai sebutan yakni jetis sebagai nama lain dari Padukuhan Siyono Kulon.
Kepala Padukuhan Siyono Kulon pertama kali dijabat oleh Bapak Karyo Dimeja dan pada masa itulah mendapatkan sesebutan lain yakni "miruda".
Setelah Bapak Karyo Dimeja lepas dari jabatan dukuh, kemudian Bapak Iman Adi alias Iman Karmiyo melanjutkan menjabat sebagai PJ (Pejabat Sementara) Dukuh Siyono Kulon tersebut.
Di era tahun 1985 secara demokratis masyarakat melakukan pemilihan Kepala Padukuhan, setelah melaksanakan pemilihan, munculah seorang nama Bapak Lasiyo yang mendapatkan suara terbanyak setelah pemungutan suara dan otomatis menjabat sebagai dukuh yang ke dua sampai masa purna yakni tahun 2017 dan digantikan oleh Ibu Febriana sampai tahun 2018 melalui proses seleksi sesuai aturan konstitusional saat ini. Kemudian tidak berselang lama, Ibu Febriana mengundurkan diri dari jabatan Dukuh Siyono Kulon, kemudian digantikan sementara oleh Bapak Suparno sampai dengan pelantikan Dukuh Siyono Kulon yang baru. Pada bulan September 2019 melalui poses seleksi dan munculah nama Yuli Ardianto sebagai dukuh Siyono Kulon saat ini. Padukuhan Siyono Kulon atau Jetis telah tercatat kurang lebih 558 orang penduduk dan telah terdiri dari tujuh RT yakni dari RT 28 sampai RT 34 dan luas wilayah padukuhan ini sekitar 27 ha.
Padukuhan Siyono Kulon mempunyai keluasan lahan pertanian ladang di sektor selatan dan dimanfaatkan warga masyarakat sebagai salah satu mata penacaharian yang menghasilkan bagi para petani, lahan pertanian yang bersifat tadah hujan ini seiring musim penghujan para petani menggarapnya untuk ditanami tanaman padi, setelah itu biasanya kedelai, disaat musim kemarau panjang mereka menanam berbagai macam seperti menyetren buah semangka, bawang merah, semangka, ketimun , kacang panjang, jagung dan lain sebagainya dengan pengairan menggambil air dari sumur ladang ataupun di  sungai agar pertanian mereka tetap hidup segar, hijau dan dapat menghasilkan. Ladang di wilayah pertanian Padukuhan ini mempunyai sesebutan yakni alas blumbang, dan alas salak.